UK 37 Minggu di Tempat Baru

Tinggal nunggu hitungan minggu bahkan bisa jadi hari, istri saya, Insya Allah akan segera melahirkan. Semoga dimudahkan semuanya ketika waktunya tiba. Aamiin Ya Allah. Oh ya, hari kamis kemarin tepatnya tanggal 7 April 2016, saya dan istri kontrol ke tempat baru, berhubung karena pindah ke rumah baru, makanya kami mencari tempat untuk kontrol kehamilan yang lokasinya dekat rumah saja.

Menurut penilaian saya, tempat yang baru ini, dari segi manajemennya jauh lebih baik serta harga pemeriksaan kandungan yang lebih murah ketimbang tempat yang lama. Mulai dari penerimaan pasien untuk satu dokter yang hanya 30 orang per hari, dimana pendaftarannya dilakukan beberapa jam sebelumnya. Jadi kalau mau kontrol di siang hari, maka saya harus daftar di pagi hari, dan kalau mau kontrolnya sore hari, maka saya harus daftarnya di siang hari. Selain itu, saya bisa milih dokter siapa yang mau periksa, dan kalaupun ternyata setelah saya mendaftar dan memilih siapa dokter yang akan memeriksa istri, dokternya ternyata berhalangan hadir, pihak rumah bersalin akan segera menghubungi saya kembali, untuk melakukan konfirmasi apakah dibatalkan atau mau memilih dokter yang lain. Sistem antriannya pun baik, kami mendapat nomor antrian setelah konfirmasi pendaftaran yang telah dilakukan sebelumnya. Sambil menunggu panggilan, bidan akan melakukan pengecekan tensi darah, perhitungan berat badan, serta menanyakan keluhan-keluhan yang dialami selama ini.

Sebenarnya apa yang dilakukan rumah bersalin yang baru tersebut standar-standar saja, tiada yang benar-benar istimewa, namun karena dibandingkan dengan tempat yang lama, maka perbandingannya seperti langit dan bumi. Bukan bermaksud untuk menjelekkan, tapi manajemen di tempat yang lama memang harus dirombak, jika tidak ingin tergusur oleh tempat yang lain. Di tempat yang lama, seringkali ketika saya dan istri datang, tidak ada satu orang pun pegawai yang berada di bagian layanan pasien yang berinisiatif untuk menyapa kami duluan, padahal saat itu tidak ada pasien lain yang hendak mendaftar. Bukannya saya dan istri manja ingin disapa duluan, tapi kondisinya memang agak membingungkan juga buat kami. Pegawai-pegawai di bagian layanan pasien seringkali terlihat sedang asyik mengobrol. Berapa kali kami menghampiri meja kerjanya, tapi tak ada satu pun pegawai yang langsung terlihat responsif menghampiri kami. Bahkan berapa kali saya melihat pegawai-pegawai tersebut sedang jajan pada pedagang-pedagang yang ironisnya bisa keluar masuk seenaknya kedalam rumah bersalin tersebut. Waktu layanan pendaftaran pun sungguh sangat menyebalkan. Pegawai yang memeriksa tensi darah istri saya, terkesan malas-malasan kerjanya, hal itu bisa dilihat dari raut muka dan bagaimana dia menyuruh istri saya untuk menimbang badan sendiri tanpa dia ikut melihat berapa hasil timbangan istri saya.

Kekacauan berlanjut pada sistem antrian. Setelah saya dan istri mendaftar, kami tidak mendapatkan nomor antrian. Kalau pasien yang kontrol sedikit bahkan tidak ada, maka hal tersebut tidak terlalu masalah, tapi kalau pasiennya sedang membludak, maka hal tersebut akan sangat membingungkan. Saya harus menghafal siapa orang yang datang sesudahnya saya, supaya dia tidak menyerobot antrian, dan terkadang juga memang diserobot, karena mungkin pasien yang baru datang tersebut tidak tahu atau memang urat malu-nya sudah putus hingga tidak malu menyerobot antrian.

Tempat antrian pun bermasalah. Di luar ruangan dokter sebenarnya terdapat kursi panjang untuk para pasien, tapi lucunya kadang pasien juga dipanggil ke ruangan dokter untuk menunggu di ruang dokter, dan menurut saya hal ini sangatlah fatal, karena ketika kami sedang konsultasi masalah kehamilan dengan dokter, pasien-pasien lain berada pada ruangan yang sama. Saya pastikan apa yang sedang saya dan istri serta pasien lain obrolkan dengan dokter akan terdengar oleh pasien yang lain. Tidak ada yang namanya privasi sama sekali, sehingga kami sendiri tidak berani menanyakan hal-hal yang menurut saya dan istri agak malu untuk ditanyakan di dekat banyak orang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menjadi standar-standar saja, dan bahkan saya terkadang tidak bertanya sama sekali.

Tidak berhenti pada pegawai dan masalah antrian, di tempat lama juga jadwal dokternya tidak jelas. Di balik kartu kontrol, terdapat jadwal dokter jaga, tapi itu semua seperti sekedar tulisan saja, kenyataannya seperti api jauh dari panggang. Biasanya yang benar-benar stand by pada jam kerja hanyalah satu dokter, sisanya terkadang saja ada di tempat. Mungkin dokter yang lainnya praktek juga di tempat yang lain. Dengan sistem pendaftaran langsung di tempat, akhirnya mau tidak mau kita tidak dapat memilih dokter yang diinginkan, tapi diperiksa oleh dokter yang ada di tempat saja. Dan sialnya saya dan istri pernah dapat dokter yang seperti nggak niat kerja. Benar-benar jutek dan nggak enak buat diajak diskusi, alhasil boro-boro pengen nanya-nanya, yang ada pengennya cepet selesai aja pemeriksaannya. Dan yang terakhir, alat USG-nya udah jadul. Pas pemeriksaan terkadang sulit sekali melihat dengan jelas kenampakan si dede-nya, dan juga tidak ada informasi seperti berat badan si dede, perkiraan lahiran, dll, pada cetakan citra hasil USG, sehingga seperti citra yang tidak mempunyai arti apa-apa.

Namun di balik semua kesemrawutan, rumah bersalin yang lama tersebut masih tertolong oleh berbagai testimoni positif para pasien yang pernah lahiran di sana. Bidan dan dokter di sana, terutamanya dokter kepala-nya, sudah sangat terkenal mempunyai pengalaman dan kemampuan yang sangat baik dalam menangani berbagai pasien yang hendak melahirkan. Bibi dan beberapa saudara pernah lahiran disana, dan komentar mereka pun sangat positif. Entah gimana jadinya, kalau manajemen yang sudah semrawut tersebut diikuti oleh penangan pasien lahiran yang buruk, sudah dapat dipastikan tinggal menunggu waktu saja tempat tersebut gulung tikar.

Dengan reputasi dalam proses melahirkan normal yang sangat baik, saya dan istri sebenarnya sempat kebingungan, apakah tetap lanjut di tempat lama dengan resiko lokasinya yang jauh?, atau di tempat baru yang belum saya ketahui reputasi dalam proses lahiran secara normalnya tapi lokasinya dekat dengan rumah?. Namun setelah coba searching di internet, saya lihat bahwa di tempat yang baru ini komentarnya masih positif, tidak ada komentar negatif dari pasien yang pernah melahirkan di sana. Dan dengan bismillah, akhirnya saya dan istri membulatkan hati untuk melahirkan di tempat yang baru saja.

Kembali lagi ke pas pemeriksaan di tempat yang baru, saya sendiri tidak ikut masuk waktu istri diperiksa, karena saya kira pihak suami gak bisa ikut. Eh, pas lihat pasien setelah istri saya masuk dengan suami-nya, saya baru nyesel gak ikut masuk. Dari hasil pemeriksaan USG, si dede udah masuk usia kandungan 37 minggu dengan posisi yang udah bagus, namun belum benar-benar turun ke panggul. Dokter sendiri menyarankan supaya banyak jalan kaki ke istri, supaya si dede bisa secepatnya pada posisi yang semestinya. Nah yang sedikit jadi agak masalah yaitu berat badan si dede yang berlebih. Dengan usia kandungan 37 minggu, berat badan si dede udah nyentuh hampir 3 Kg (tepatnya 2.99 Kg), padahal idealnya harusnya sekitar 2.8 Kg. Istri sendiri disarankan untuk lebih diet lagi, supaya berat badan dede tidak benar-benar melonjak nantinya, sehingga pas lahiran nanti bisa lancar.

USG Minggu 37

USG Minggu 37

Kata dokter sendiri, dengan usia kandungan sudah 37 minggu, sebenarnya sudah cukup untuk bisa melahirkan. Jadi jika sewaktu-waktu sudah kerasa kontraksi, maka secepatnya datang ke rumah bersalin tersebut. Dari hasil searching di internet, saya dapat informasi bahwa normalnya dan kebanyakannya perempuan akan melahirkan di usia kandungan 39 – 41 minggu, maka kalau kayak gitu, perkiraan 2-3 minggu lagi istri saya akan melahirkan, dengan tidak menutup kemungkinan minggu depan pun sudah melahirkan. Hanya Allah yang tahu, kapan si dede akan menampakkan dirinya ke dunia, yang terpenting semuanya bisa lancar, sehat, dan normal. Aamiin Ya Allah.

Sekarang hanya banyak berdoa saja, supaya ketika lahiran nanti, pekerjaan yang sedang saya kerjakan ini sudah selesai, sehingga pikiran dan badan ini bisa menemani istri melahirkan secara utuh, serta istri dapat melahirkan cepat, lancar, normal, serta sehat, begitu juga dengan si dede-nya terlahir selamat dan sehat tanpa kurang satu apapun. Aamiin.

Advertisements
This entry was posted in Kehamilan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s