Nadya Terra Nugraha

Bak petir di siang bolong, ucapan bidan itu benar-benar tidak saya sangka. “Pak, berdasarkan instruksi dokter, sebaiknya istri bapak langsung di caesar, dan tidak melalui proses induksi, karena berdasarkan observasi sebelumnya, jantung dede bayi lemah, takut ketika nanti di induksi, dede bayi-nya tidak kuat dan takut ada apa-apa nanti-nya”, begitu ujar bidan. Dalam kondisi isi kepala yang sudah kalut atas ucapan bidan tersebut, saya bilang pada bidannya : “sebentar ya, saya diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga”.

Saya bicarakan perihal caesar ini ke mamah, yang barengan ikut ke rumah bersalin. Beliau nampak shock dan tidak percaya juga, tapi dia berupaya terlihat tetap tegar, supaya saya juga tidak bertambah kalut. Terpikir untuk membawa istri ke tempat lain, supaya ada second opinion, namun dengan kondisi hujan deras, serta posisi rumah sakit lain atau tempat-tempat persalinan lain yang kami ketahui jaraknya jauh, maka saya dan mamah sepakat untuk tidak mengambil opsi memindahkan istri ke tempat lain. Saya dan mamah setuju untuk segera dilakukan tindakan medis berupa operasi caesar, berhubung ketuban sudah pecah sedangkan pembukaan baru tahap pertama (1), takut dede bayi keracunan air ketuban kalau sudah terlalu lama tidak keluar dari rahim ibunya, apalagi ternyata belakangan kami ketahui bahwa dede bayi beratnya mencapai 4 Kg, padahal pas USG terakhir sekitar 3.4 – 3.5 Kg.

Selanjutnya, tugas berat menanti, mengatakan semua ini kepada istri. Dan benar saja, setelah saya katakan kondisi yang terjadi, istri nampak begitu terpukul. Deraian air mata mengalir deras dari kedua matanya. Tak tahan sebenarnya melihat istri menangis seperti itu, ingin juga mata ini menangis, tapi saya tahan supaya istri dapat tegar dan tidak bertambah sedih. Saya peluk dan tenangkan istri, supaya bisa menerima kondisi ini, dan berujar tidak ada masalah juga dengan operasi caesar ini, yang terpenting dede bayi bisa terlahir selamat dan sehat, dan begitu pula dengan ibu-nya. Saya mengerti perasaan istri, dia ingin melahirkan dede bayi secara normal, merasakan hakikat perjuangan melahirkan buah hatinya ke dunia, sama seperti sebagian besar calon ibu lainnya yang ada di dunia ini, tapi itulah hidup tidak semua yang kita inginkan dapat terealisasi.

Misi selanjutnya sebelum saya setuju dengan operasi caesar ini, yaitu memberitahu mertua dan meminta restunya via telepon. Dan, saya tidak menyangka ternyata reaksi mertua setelah saya beritahu kondisi istri, lebih kalut dan panik dibanding saya dan mamah. Beliau berkata sambil menahan tangis, supaya dipindah saja ke tempat lain, upayakan dapat normal. Saya pun bilang kepada mertua, bahwa kondisinya agak sedikit rumit, istri harus ditindak secara medis secepatnya. Posisi saya waktu itu agak terjepit, di satu sisi saya harus sesegera mungkin harus menyetujui operasi ini, supaya secepatnya dapat dilakukan operasi, di sisi lain mertua ingin dapat diupayakan agar persalinan dilakukan secara normal. Tapi setelah saya utarakan kondisi istri dan juga saya katakan operasi caesar ini Insya Allah tidak akan apa-apa, akhirnya mertua memberi restunya. Mertua sendiri tidak bisa datang ke rumah bersalin waktu itu, berhubung kondisi hujan deras, posisi rumah bersalin jauh dari rumah, serta ditambah mertua tidak punya kendaraan. Mertua sendiri tadinya mau datang setelah hujan reda.

Dapat restu dari mertua, akhirnya saya langsung mendaftar untuk proses operasi caesar. Istri langsung dibawa ke rumah sakit besar yang menjadi rekanan rumah bersalin, berhubung di rumah bersalin tidak dapat dilakukan operasi caesar. Saya, mamah, serta saudara lain yang ikut (Mang Dhany, Ade Ratih, dan Ma Yoyoh), harap-harap cemas selama operasi berjalan. Doa terus dipanjatkan, semoga operasi berjalan lancar – ibu dan anak selamat dan sehat. Setelah operasi berjalan sekitar 20 menit, sayup-sayup dari ruang tunggu operasi, saya dengar suara tangisan bayi. Dalam hati saya berharap itu dede bayi saya dan istri, dan ternyata Alhamdulillah benar. Salah satu dokter membawa dede bayi dan mengatakan bayi terlahir hari Rabu, 27 April 2016, pada pukul 20:17, dengan berat 4 kg dan panjang 52 cm.

Tangis haru tidak dapat saya bendung lagi, luar biasa rasanya melihat buah hati sendiri yang sudah berada dalam rahim istri selama 9 bulan, sekarang sudah terlahir ke dunia. Begitu juga dengan mamah, air matanya mengalir deras, tanda keharuan yang amat sangat. Inilah cucu pertama mamah, dan akhirnya secara resmi beliau menjadi seorang nenek, hehehe ….. :), dan saya juga resmi menjadi seorang bapak – sebuah fase baru lagi dalam kehidupan saya. Walau dede bayi sudah lahir, saya dan keluarga belum sepenuhnya tenang, karena kami belum mengetahui kondisi istri bagaimana. Namun berselang sekitar 30 menit setelahnya, kabar menggembirakan lainnya datang, Alhamdulillah, operasi istri sepenuhnya telah selesai, dan istri sehat walafiat.

Balik ke soal caesar, sebenarnya saya sendiri tidak ada masalah dengan proses caesar ini, namun karena semuanya seperti serba cepat dan mendadak, mental saya belum kuat waktu itu. Satu minggu sebelumnya, di usia kandungan menginjak 39 minggu, saya dan istri memeriksakan kandungan, dan hasilnya bagus semua kata dokter, hanya tinggal mengurangi porsi makan yang manis-manis, berhubung berat badan bayi sudah agak kegendutan. Posisi kepala bayi pun sudah sebagian kecil masuk panggul, tinggal di ikhtiarin lagi seperti frekuensi jalan-jalan-nya ditambah serta durasinya diperpanjang, melakukan senam, serta ikhtiar lainnya, dan tentu saja doa terus dipanjatkan, Insya Allah, mungkin satu minggu ke depan, kepala bayi sebagian besar sudah masuk, dan sudah siap lahiran. Saya dan istri sudah mengira bahwa, Insya Allah, persalinan akan berjalan secara normal, karena kondisinya sudah baik, kecuali memang ada apa-apa, mau tidak mau, opsi caesar harus diambil. Tapi itulah hidup, ada Yang Maha Kuasa mengatur segala kehidupan ini. Manusia hanya bisa berharap, berencana, dan berusaha, tapi Allah lah, penggenggam dunia dan seisi-nya ini yang memutuskan segalanya.

Nadya Terra Nugraha Lahir : Rabu, 27 April 2016, dengan Berat 4 Kg dan Panjang 52 cm

Nadya Terra Nugraha
Lahir : Rabu, 27 April 2016, dengan Berat 4 Kg dan Panjang 52 cm

Selamat datang anakku, Nadya Terra Nugraha, semoga menjadi anak yang sholehah berbakti kepada orang tua dan keluarga, cerdas, cantik luar dalam, serta selamat dunia dan akhirat. Aamiin.

Advertisements
This entry was posted in Kehamilan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s